Diantara Pembaretan dan Perjuangan

                                                   Lambang Resimen Mahasiswa (Menwa)

                                                      
 Sedikit berbagi cerita dan pengalaman, mengenai bahan obrolan yang bisa dijadikan topik klasik di masa depan…

   Demi mendapatkan baret coklat kehijau-hijauan dan baret ungu tua (bahasa kerennya baret praja wibawa dan Baret Menwa), saya dan kawan – kawan harus melewati fase kegiatan ini.

Artikel terkait : ( Baca :Pembaretan 36 Km  )

    Acara ini biasanya disebut “Jalan Juang dan Kemah Juang” atau “Pembaretan”. Salah satu kegiatan wajib yang dilaksanakan oleh Madya Praja ( Tingkat II ). Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan “Perjalanan Melawan Dehidrasi”, karena disini ada pertarungan antara rasa lelah dan semangat.

   Semua orang di dunia menengadah ke langit dan bisa merasakan panasnya matahari, dimanapun koordinat sudut di bumi, matahari secara jelas terlihat dan terasa. Begitupun kami yang berjalan dari wisma menuju tempat tujuan pembaretan. Membayangkan 36 Km tujuan nun jauh disana, membuat semangat saya menurun. Mungkin untuk para perwira TNI ataupun Polri jarak itu belum seberapa. Pada start pertama, semangat kami begitu terlihat dengan alunan-alunan nyanyian bersama di barisan berjejer satu banjar memanjang seperti barisan semut di sarangnya. Panorama dan lalu lalang kendaraan  berkelebat di samping kanan kami.

   Keadaan pada saat itu masih pagi, tapi pagi disini tidak seperti pagi di Bandung, terik matahari sudah seperti berada di atas kepala, basah oleh keringat itu adalah hal yang biasa bagi saya yang sudah beradapatasi akan keadaan ini tentunya pada saat melakukan kegiatan formal di lapangan. Di perjalanan panjang yang lumayan monoton ini , permen dan gula merah dari pemberian kawan,  menjadi penghibur  dikala tenggorokan kering. Canda tawa madya lainnya di barisan cukup menghibur rasa bosan ini dalam perjalanan menuju DP ( Daerah Peristirahatan ) makan siang di sekitar pemukiman warga.

  Tak terasa hari sudah siang, dan matahari menunjukan eksistensi nya secara utuh di atas kepala. Bersyukur melihat isi botol minum yang penuh karena telah diisi ulang tadi pada saat istirahat. Tapi bukan saya saja yang terlihat lelah dalam perjalanan ini, keliatannya yang lainnya sudah lelah , terlihat dari cara jalannya sudah tidak sesemangat tadi. Sejenak aku menertawai diriku sendiri yang sudah tidak merasakan ujung kaki ini, mungkin karena terlalu pegal. 

   Keadaan di kilometer terakhir yaitu dimana beberapa ratus meter lagi sampai ke tempat area lapangan kemah juang pantas disebut “fase keputus-asa-an karena rasa lelah saya dan mereka sudah mencapai klimaks. Para danru ( Komandan Regu ) dari satuan Nindya Praja ( Tingkat 3 ) yang setia selalu memimpin dan menemani di tiap – tiap satuan regunya tidak bisa lagi menyembunyikan wajah pucatnya. Di fase Ujung tanduk stamina itu saya hanya bisa terhibur oleh celotehan – celotehan kawan – kawan yang masih punya kemampuan untuk berhumor ria.

       Melihat tempat tujuan sudah di depan mata, yaitu lapangan yang luasnya lebih besar dari lapangan bola, perasaan saya begitu lega , rasanya seperti orang yang terdampar di padang pasir yang melihat kolam dari kejauhan walaupun itu hanya fatamorgana. Menginjak tanah yang dipenuhi dengan rumput hijau, lutut ini sudah tidak bisa menopang berat badan yang lelah. Walaupun pada saat sore itu matahari belum menyerah untuk membakar kami dengan panasnya, saya tidak peduli , asal saja sudah bisa berbaring dan menutup mata sejenak itu sudah kenyamanan lebih bagi saya.

     10 Detik kemudian, alunan nada “alert” dari dalam perut berkumandang. Terbayang jika ada satu Loyang besar Pizza dan satu Botol Softdrink di tengah lapang ini,  ketenangan kerumunan orang yang kecapean berubah menjadi kerusuhan memperebutkan Pizza dengan jiwa dan raga yang kelaparan. Membayangkan cita rasa pizza hanyalah penghibur sejenak, kewajiban pertama adalah mendirikan tenda sederhana untuk istirahat.

    Setelah apel pembukaan pembaretan dilanjutkan dengan kegiatan mandiri, melihat wajah  kawan – kawan satu regu, tertulis maksud yang jelas terpampang di raut wajah mereka “Saya Lapar Sumpah !”. Tanpa pikir panjang saya mengkoyak kardus Indomie, dan kardus isi makanan, dibarengi kawan – kawan saya yang lain mempersiapkan alat masak ala Survival Version tentara nya seperti kompor kotak yang berbentuk seperti ranjau, Paravin ( bahan bakar kompor ), misting – misting dan alat masak lainnya.

“Kita Masak apa nih ?” Tanya saya.

“Masak apa saja lah yang penting bisa dimakan” Jawab James ( salah satu kawan regu saya, Pemuda hobi ketawa aneh asal NTT )

“Tenang, Aku bisa koq buat nasi campur” Eng ( Pemuda asal Jateng Hobinya masak apapun yang campur - campur ) meyakinan

Dari suara ‘nasi campur’ nya , terdengar intonasi nada yang kurang meyakinkan…

                                                            Regu 3 dan 'Nasi Campur'

   Nasi Campur tersajikan dengan komposisi campuran lima bungkus indomie rasa soto bahkan lebih, nasi setengah matang, kornet, telur juga sedikit remahan cangkangnya, dan air bumbu mie yang mendidih. Eng mengaduk – aduk misting berisi campuran itu dengan bersemangat. Tanpa pikir panjang, setelah porsi nasi campur dibagikan ke piring masing – masing, Saya melahap suapan pertama itu dengan ganas tanpa peduli kuahnya mendidih, tanpa peduli mungkin ada campuran rumput dan serangga kecil yang tidak beruntung loncat ke dalam piring.

   Dalam waktu tiga hari, fase yang paling berat saya alami adalah hari kedua, karena hari ini lah yang dijadikan momen – momen kegiatan inti dari semuanya. Lumpur sawah, basah, terik matahari, keringat, semua hal yang berhubungan dengan moto Rinso “Berani kotor itu baik” ada di hari kedua pada saat pembaretan.

"Perang - Perangan"

   Sangat tidak lupa serangan pasukan nyamuk yang ganas di malam hari, padahal pada saat tidur, saya dan kawan – kawan satu tenda masih memakai PDL ( Pakaian Dinas Lapangan ), tapi pasukan nyamuk itu sepertinya masih bisa menembus kain berkeringat ini dengan leluasa karena semua tenda segitiganya tidak tertutup di kedua sisinya. Walaupun ini malam terakhir tapi saya dan kawan – kawan satu tenda yaitu James, Jundan ( Madya Praja asal Kaltim, si badan segitiga ), Roy ( Madya Praja asal Gorontalo ) masih bersemangat menepuk nyamuk yang tiada habisnya dengan keadaan setengah terlelap.

   Singkatnya, hari terakhir di awali dengan berlari dan mengadakan simulasi perang, seperti seorang prajurit diam – diam menuju markas musuh. Saya memang bukan seorang TNI tapi dengan “mengaktifkan Imajinasi yang berlebihan, Saya sangat menghayati ‘perang – perangan’ tersebut seperti ikut serta dalam Film perang “"Saving Private Ryan"”. Melewati rintangan buatan panitia Pembaretan baik dari satuan Nindya Praja maupun Para Pengasuh menuju finish, yaitu puncak gunung yang banyak ditanami tanaman jagung. Dalam versi saya sebut saja “Gunung Jagung”.

    Puncak Gunung Jagung sendiri adalah versi super mini dari Gunung Kilimanjaro apabila dipenuhi tanaman Jagung, seperti mini Cornetto yang menjadi versi  mini dari Ice Cream Conello.

   PDL Menwa yang saya kenakan sudah bercampur keringat dan tanah merah, saat mencapai puncak Gunung Jagung bersama yang lain. Kami diperintahkan untuk tiarap lalu berlari. Berlomba – lomba mengambil dan mencari dua jenis baret yang telah disembunyikan oleh Panitia Pembaretan. Saya berlari mencari – cari sesuatu yang kontras berwarna ungu juga coklat kehijauan di semak belukar maupun di kumpulan tanaman jagung yang layu. Banyak kawan – kawan yang sudah mendapatkan kedua baret itu, tapi tidak sedikit pula yang masih bingung mencari, termasuk saya. Finally, akhirnya saya langsung menerkam baret ungu dan coklat kehijau – hijauan tak bertuan itu di balik salah satu tanaman jagung. Dengan tiarap dan menggigit kedua baret kuat – kuat seperti seekor Anjing Herder menggigit tulang kesayangannya, begitupun kawan saya yang lain.

 Akhirnya gigit baret juga

   Kembali turun dengan mengenakan baret ungu menwa adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Pembaretan ini pasti melahirkan banyak hikmah, melahirkan banyak cerita, melahirkan banyak pesan positif tentang perjuangan. Tapi saya tentunya lagi malas berpikir pada kondisi lelah waktu itu. Mungkin hanya satu yang tersirat dalam pikiran “Air Mineral” di kala sadar tenggorokan sudah kering sekali.

"Where there is no struggle, there is no strength"
-Oprah Winfrey

"Believe me, the reward is not so great without the struggle"
-Wilma Rudolph

(merenung)

   Akhirnya saya bisa lebih sedikit mengerti dan paham arti sebuah perjuangan. Harus ada yang dikorbankan. Suatu proses yang relatif tidak meng-enak-an tetapi patut di jalani apabila ingin meraih kesuksesan. Fase penuh dengan cobaan, ujian dalam menghadapi kegagalan. Sebuah Pilihan untuk menyerah atau tidak. Menyadari uluran tangan kawan begitu berarti di saat susah sendiri…

(selesai merenung)

     Itulah mungkin segelintir pemahaman saya mengenai perjuangan. Perjuangan tidak bisa diartikan dengan cara menghafal ratusan definisi perjuangan menurut para ahli, tapi dengan cara ‘merasakannya’ sendiri.

     Apel Penutupan kegiatan pun selesai, dengan mencicipi nasi kotak yang datang terlambat, terbangun dari tidur lelap di bawah pohon mangga, di sebelah seorang penjual jajanan akhirnya saya bisa bernafas lega. Menunggu Truk Brimob kloter kedua sampai malam. Duduk bersama kawan – kawan yang kurang beruntung di pos kamling pinggir jalan desa, seperti para tentara berbaret ungu penunggu perbatasan, karena bis dan truk kloter pertama sudah over capacity.

  Ditutup dengan suara mesin Truk Brimob yang sudah saya naiki, kepulan asap hitam tersebar di belakangnya. Samar – samar saya melihat lahan rumput luas bekas kumpulan tenda didirikan tadi, dari belakang truk sambil pergi menjauh. Melamun, dan kemampuan penglihatan pun semakin mengabur. Rasa lelah dan kantuk memang sudah tidak bisa lagi dibendung….

 Komunitas Praja Subedjo ( Sunda Betawi Djowo ) IPDN Reg. Sulsel

Inilah sedikit kisah saya, yang dikemas dengan tulisan acak, entah deduktif ataupun induktif ala seseorang yang masih tertatih belajar ‘menulis’…

Bagaimana dengan Kisahmu ? :)

  1. hhe...mantap lur, bener2 enak bacanya, gak keliatan kalo masih amatir tapi sudah seperti yang profesional. deskripsinya mantap, saya benar2 seperti ada di tempat kejadian. lanjtkan lur! :)

  1. . Says:

    Alhamdullillah, hatur nuhun dulur, selalu semangat juga lur ! :D

Leave a Reply

"Man Jadda Wa Jadda"
-Arabian Quotes



"Knowledge Is Power"

-Francis Bacon


"Korupsi dipicu gaya hidup hedonis dan boros"


(Benar kan?).
-Eko Laksono

Sumber Inspirasi Saya ^_^ :

Arsip Blog