05 Nov 2008 -
Lambang Resimen Mahasiswa (Menwa)
Sedikit berbagi cerita dan pengalaman,
mengenai bahan obrolan yang bisa dijadikan topik klasik di masa depan…
Demi mendapatkan baret coklat
kehijau-hijauan dan baret ungu tua (bahasa kerennya baret praja wibawa dan
Baret Menwa), saya dan kawan – kawan harus melewati fase kegiatan ini.
Artikel terkait : ( Baca :Pembaretan 36 Km )
Acara ini biasanya disebut “Jalan Juang dan Kemah Juang” atau
“Pembaretan”. Salah satu kegiatan wajib yang dilaksanakan oleh Madya Praja (
Tingkat II ). Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan “Perjalanan Melawan
Dehidrasi”, karena disini ada pertarungan antara rasa lelah dan semangat.
Semua orang di dunia menengadah
ke langit dan bisa merasakan panasnya matahari, dimanapun koordinat sudut di
bumi, matahari secara jelas terlihat dan terasa. Begitupun kami yang berjalan
dari wisma menuju tempat tujuan pembaretan. Membayangkan 36 Km tujuan nun jauh
disana, membuat semangat saya menurun. Mungkin untuk para perwira TNI ataupun
Polri jarak itu belum seberapa. Pada start pertama, semangat kami begitu
terlihat dengan alunan-alunan nyanyian bersama di barisan berjejer satu banjar
memanjang seperti barisan semut di sarangnya. Panorama dan lalu lalang
kendaraan berkelebat di samping kanan
kami.
Keadaan pada saat itu masih pagi, tapi pagi disini tidak seperti pagi di
Bandung, terik matahari sudah seperti berada di atas kepala, basah oleh
keringat itu adalah hal yang biasa bagi saya yang sudah beradapatasi akan
keadaan ini tentunya pada saat melakukan kegiatan formal di lapangan. Di
perjalanan panjang yang lumayan monoton ini , permen dan gula merah dari
pemberian kawan, menjadi penghibur dikala tenggorokan kering. Canda tawa madya
lainnya di barisan cukup menghibur rasa bosan ini dalam perjalanan menuju DP (
Daerah Peristirahatan ) makan siang di sekitar pemukiman warga.
Tak terasa hari sudah siang, dan matahari menunjukan eksistensi nya
secara utuh di atas kepala. Bersyukur melihat isi botol minum yang penuh karena
telah diisi ulang tadi pada saat istirahat. Tapi bukan saya saja yang terlihat
lelah dalam perjalanan ini, keliatannya yang lainnya sudah lelah , terlihat
dari cara jalannya sudah tidak sesemangat tadi. Sejenak aku menertawai diriku
sendiri yang sudah tidak merasakan ujung kaki ini, mungkin karena terlalu
pegal.
Keadaan di kilometer terakhir yaitu dimana beberapa ratus meter lagi
sampai ke tempat area lapangan kemah juang pantas disebut “fase keputus-asa-an
karena rasa lelah saya dan mereka sudah mencapai klimaks. Para danru ( Komandan
Regu ) dari satuan Nindya Praja ( Tingkat 3 ) yang setia selalu memimpin dan
menemani di tiap – tiap satuan regunya tidak bisa lagi menyembunyikan wajah
pucatnya. Di fase Ujung tanduk stamina itu saya hanya bisa terhibur oleh
celotehan – celotehan kawan – kawan yang masih punya kemampuan untuk berhumor
ria.
Melihat tempat tujuan sudah di depan
mata, yaitu lapangan yang luasnya lebih besar dari lapangan bola, perasaan saya
begitu lega , rasanya seperti orang yang terdampar di padang pasir yang melihat
kolam dari kejauhan walaupun itu hanya fatamorgana. Menginjak tanah yang
dipenuhi dengan rumput hijau, lutut ini sudah tidak bisa menopang berat badan
yang lelah. Walaupun pada saat sore itu matahari belum menyerah untuk membakar
kami dengan panasnya, saya tidak peduli , asal saja sudah bisa berbaring dan
menutup mata sejenak itu sudah kenyamanan lebih bagi saya.
10 Detik kemudian, alunan nada “alert”
dari dalam perut berkumandang. Terbayang jika ada satu Loyang besar Pizza dan
satu Botol Softdrink di tengah lapang ini, ketenangan kerumunan orang yang kecapean
berubah menjadi kerusuhan memperebutkan Pizza dengan jiwa dan raga yang
kelaparan. Membayangkan cita rasa pizza hanyalah penghibur sejenak, kewajiban
pertama adalah mendirikan tenda sederhana untuk istirahat.
Setelah apel pembukaan pembaretan
dilanjutkan dengan kegiatan mandiri, melihat wajah kawan – kawan satu regu, tertulis maksud yang
jelas terpampang di raut wajah mereka “Saya Lapar Sumpah !”. Tanpa pikir
panjang saya mengkoyak kardus Indomie, dan kardus isi makanan, dibarengi kawan
– kawan saya yang lain mempersiapkan alat masak ala Survival Version tentara
nya seperti kompor kotak yang berbentuk seperti ranjau, Paravin ( bahan bakar
kompor ), misting – misting dan alat masak lainnya.
“Kita Masak apa nih ?” Tanya
saya.
“Masak apa saja lah yang penting
bisa dimakan” Jawab James ( salah satu kawan regu saya, Pemuda hobi ketawa aneh
asal NTT )
“Tenang, Aku bisa koq buat nasi
campur” Eng ( Pemuda asal Jateng Hobinya masak apapun yang campur - campur ) meyakinan
Dari suara ‘nasi campur’ nya ,
terdengar intonasi nada yang kurang meyakinkan…
Regu 3 dan 'Nasi Campur'
Regu 3 dan 'Nasi Campur'
Nasi Campur tersajikan dengan komposisi campuran lima bungkus indomie
rasa soto bahkan lebih, nasi setengah matang, kornet, telur juga sedikit
remahan cangkangnya, dan air bumbu mie yang mendidih. Eng mengaduk – aduk
misting berisi campuran itu dengan bersemangat. Tanpa pikir panjang, setelah
porsi nasi campur dibagikan ke piring masing – masing, Saya melahap suapan
pertama itu dengan ganas tanpa peduli kuahnya mendidih, tanpa peduli mungkin
ada campuran rumput dan serangga kecil yang tidak beruntung loncat ke dalam
piring.
Dalam waktu tiga hari, fase yang paling berat saya alami adalah hari
kedua, karena hari ini lah yang dijadikan momen – momen kegiatan inti dari
semuanya. Lumpur sawah, basah, terik matahari, keringat, semua hal yang
berhubungan dengan moto Rinso “Berani kotor itu baik” ada di hari kedua pada
saat pembaretan.
"Perang - Perangan"
Sangat tidak lupa serangan pasukan nyamuk yang ganas di malam hari,
padahal pada saat tidur, saya dan kawan – kawan satu tenda masih memakai PDL (
Pakaian Dinas Lapangan ), tapi pasukan nyamuk itu sepertinya masih bisa
menembus kain berkeringat ini dengan leluasa karena semua tenda segitiganya
tidak tertutup di kedua sisinya. Walaupun ini malam terakhir tapi saya dan
kawan – kawan satu tenda yaitu James, Jundan ( Madya Praja asal Kaltim, si badan
segitiga ), Roy ( Madya Praja asal Gorontalo ) masih bersemangat menepuk nyamuk
yang tiada habisnya dengan keadaan setengah terlelap.
Singkatnya, hari terakhir di awali dengan berlari dan mengadakan
simulasi perang, seperti seorang prajurit diam – diam menuju markas musuh. Saya
memang bukan seorang TNI tapi dengan “mengaktifkan Imajinasi yang berlebihan,
Saya sangat menghayati ‘perang – perangan’ tersebut seperti ikut serta dalam
Film perang “"Saving Private Ryan"”. Melewati rintangan buatan panitia
Pembaretan baik dari satuan Nindya Praja maupun Para Pengasuh menuju finish,
yaitu puncak gunung yang banyak ditanami tanaman jagung. Dalam versi saya sebut
saja “Gunung Jagung”.
Puncak Gunung Jagung sendiri adalah versi
super mini dari Gunung Kilimanjaro apabila dipenuhi tanaman Jagung, seperti
mini Cornetto yang menjadi versi mini
dari Ice Cream Conello.
PDL Menwa yang saya kenakan sudah
bercampur keringat dan tanah merah, saat mencapai puncak Gunung Jagung bersama
yang lain. Kami diperintahkan untuk tiarap lalu berlari. Berlomba – lomba
mengambil dan mencari dua jenis baret yang telah disembunyikan oleh Panitia
Pembaretan. Saya berlari mencari – cari sesuatu yang kontras berwarna ungu juga
coklat kehijauan di semak belukar maupun di kumpulan tanaman jagung yang layu.
Banyak kawan – kawan yang sudah mendapatkan kedua baret itu, tapi tidak
sedikit pula yang masih bingung mencari, termasuk saya. Finally, akhirnya saya
langsung menerkam baret ungu dan coklat kehijau – hijauan tak bertuan itu di
balik salah satu tanaman jagung. Dengan tiarap dan menggigit kedua baret kuat –
kuat seperti seekor Anjing Herder menggigit tulang kesayangannya, begitupun
kawan saya yang lain.
Akhirnya gigit baret juga
Kembali turun dengan mengenakan baret ungu
menwa adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Pembaretan ini pasti melahirkan
banyak hikmah, melahirkan banyak cerita, melahirkan banyak pesan positif
tentang perjuangan. Tapi saya tentunya lagi malas berpikir pada kondisi lelah
waktu itu. Mungkin hanya satu yang tersirat dalam pikiran “Air Mineral” di kala
sadar tenggorokan sudah kering sekali.
"Where there is no struggle, there is no strength"
-Oprah Winfrey
"Believe me, the reward is not so great without the struggle"
-Wilma Rudolph
(merenung)
Akhirnya saya bisa lebih sedikit mengerti dan paham arti sebuah
perjuangan. Harus ada yang dikorbankan. Suatu proses yang relatif tidak
meng-enak-an tetapi patut di jalani apabila ingin meraih kesuksesan. Fase penuh
dengan cobaan, ujian dalam menghadapi kegagalan. Sebuah Pilihan untuk menyerah
atau tidak. Menyadari uluran tangan kawan begitu berarti di saat susah sendiri…
(selesai merenung)
Apel Penutupan kegiatan pun selesai, dengan
mencicipi nasi kotak yang datang terlambat, terbangun dari tidur lelap di bawah
pohon mangga, di sebelah seorang penjual jajanan akhirnya saya bisa bernafas
lega. Menunggu Truk Brimob kloter kedua sampai malam. Duduk bersama kawan –
kawan yang kurang beruntung di pos kamling pinggir jalan desa, seperti para
tentara berbaret ungu penunggu perbatasan, karena bis dan truk kloter pertama
sudah over capacity.
Ditutup dengan suara mesin Truk Brimob yang
sudah saya naiki, kepulan asap hitam tersebar di belakangnya. Samar – samar
saya melihat lahan rumput luas bekas kumpulan tenda didirikan tadi, dari
belakang truk sambil pergi menjauh. Melamun, dan kemampuan penglihatan pun
semakin mengabur. Rasa lelah dan kantuk memang sudah tidak bisa lagi
dibendung….
Komunitas Praja Subedjo ( Sunda Betawi Djowo ) IPDN Reg. Sulsel
Inilah sedikit kisah saya, yang
dikemas dengan tulisan acak, entah deduktif ataupun induktif ala seseorang yang
masih tertatih belajar ‘menulis’…
Bagaimana dengan Kisahmu ? :)





hhe...mantap lur, bener2 enak bacanya, gak keliatan kalo masih amatir tapi sudah seperti yang profesional. deskripsinya mantap, saya benar2 seperti ada di tempat kejadian. lanjtkan lur! :)