05 Nov 2008 -
Bulan Ramadhan adalah Bulan yang
penuh berkah tentunya, tetapi di lain sisi, dan sudut pandang lain, bulan ini
adalah bulan yang penuh dengan cobaan dan ketahanan kita dalam melawan segala
hawa nafsu yang ada.
Waktu yang terus berlalu di tiap
harinya, tiap jam nya begitu diresapi bagi umat muslim yang menjalankannya.
Begitu juga yang saya jalani pada hari ke-4 bulan Suci Ramadhan ini. Dari waktu
Bada Dzuhur sampai waktu adzan shalat ashar berkumandang, pada jam – jam ini
lah dilanda kebosanan yang bisa dibilang akut. Mayoritas penghuni wisma ini
lebih memilih tidur sebagai aktivitas rutin. Kebosanan ditambah lagi dengan
tidak adanya kegiatan perkuliahan karena seyogyanya setelah selesainya praktek lapangan 2 dan pengumpulan
Laporan, tidak ada lagi kegiatan formal selain acara LINUS (Liga Nusantara) yang
telai usai dan variasi kegiatan Ibadah di Bulan Ramadhan.
Apalagi bagi teman – teman saya
yang menghayati cobaan menahan lapar dan dahaga bersabar menunggu waktu
berbuka, biasa bisa makan dan sejenak memakan cemilan sesuka perut di kantin,
sekarang mereka harus lebih beradaptasi. Katakan “see you later” pada
beng-beng, coca-cola, cheetos rasa keju sampai adzan magrib berkumandang
nanti...
Aura kamar saya begitu sepi,
samping kiri dan samping kanan bed tempat saya bersantai hanya terdapat orang
yang berbaring di bednya tidak bergerak. Terlelap dalam tidur panjangnya
sebagai seorang non job sejati. Adapun satu atau dua kali teman dari luar kamar
yang membuka pintu ini, 3 detik kemudian mereka menutup pintu itu kembali.
Menurut saya itu naluri yang wajar karena mereka lebih memilih melihat,
menonton dan mungkin ikut memainkan PC games PES ( Pro Evolution Soccer ) 2012 di kamar sebelah, sebagai pengisi kegiatan
mereka dalam menunggu waktu berbuka puasa nanti, daripada ikut bergabung
membaca e-novel di laptop saya dengan suasana redup ini, terbukti dengan adanya
macam – macam suara cekikikan dan omongan tidak terlalu jelas dari kamar
sebelah, “AH”, “UH” dan “GOL” dan seterusnya.
Di masa – masa inilah rentan sekali terkena
virus malas, menyegel seluruh letupan – letupan semangat dalam menjalankan
aktivitas yang produktif di waktu selapang – lapangnya ini. Langsung
menyepekati secara otomatis “Kan tidur juga kalo di Bulan Ramadhan Ibadah”.
Inilah kisah awal senandung si para pemalas. Sehingga Cita – cita hanyalah
cerita. Mungkin yang membedakan antara Negara maju dan Negara berkembang adalah
dari tingkat kemalasan dan tingkat kerja kerasnya para warga negaranya. Saya
tidak bermaksud untuk sok pintar, atau merasa lebih paham, lebih mengerti,
bahkan merasa lebih ahli, tapi saya hanya mencoba menelaah, mencoba berargumen,
menjelaskan dari sisi ke awaman yang saya miliki , dan belajar merangkai
kumpulan kalimat yang benar mengenai suatu informasi.
Seperti kalimat yang di kutip di
novel yang saya sedang baca,
“Hari adalah Kumpulan Waktu. Dan
Waktu adalah Modal Berharga bagi para umat manusia”
Dalam keadaan bodoh saya
menganggap bahwa waktu yang saya miliki hari ini bisa didapatkan lagi di hari
esok. Bahwa hari Selasa ini, terganti dengan hari selasa minggu depan. Filosofi
prinsip santai dalam hidup. Seperti air mengalir, yang disalah artikan, lebih
disebut prinsip pasrah dalam lautan kemalasan. Apakah mungkin kebiasaan ini
bisa di bilang sebuah warisan turun – temurun ala bangsa ini ?
Warisan ketidaksadaran akan potensinya.
Paus raksasa penguasa samudera yang bermental ikan teri. Lebih memilih tetap
menjadi ikan teri padahal paus raksasa. Lebih memilih hidup berkeluh kesah,
terbiasa hidup pasrah. Dimana – dimana baik mayoritas remajanya lebih memilih
hidup bergaya hedonis, yang penting gaul dulu, Ilmu pengetahuan baik berbentuk
mata kuliah apalagi Ilmu Agama itu di
nomor dua kan bahkan di nomor tiga puluh kan. Ada yang dipercaya, dan
mendapatkan amanah menjadi pemimpin, bahkan sampai dua periode, masih bisa “nyengir”
dikala divonis menjadi “Si Tikus pemangsa uang”, ada yang sudah kuliah gratis
tapi kadang – kadang malas seperti saya (Intropeksi Diri ), ada mantan atlit
yang menjual mendalinya demi sesuap nasi. Prestasi disini seakan tidak terlalu
dihargai, atau memang tidak dihargai. Ditambah rasa malas untuk berubah dan
pihak – pihak yang malas menghargai. Sehingga kemalasan dari satu orang berimbas
ke kemalasan yang lainnya . Saling terhubung menjadi siklus yang rumit dan
jadilah keadaan negeri ini apabila dilihat dari satelit. Sungguh merugikan. Tapi
saya yakin tidak semua. Tidak semua seperti itu.
“Alangkah malunya jadi orang
Indonesia !”
Mungkin bisa saja kalimat itu tersirat dalam lubuk hati yang terdalam
ketika merasa kecewa. Kenapa Indonesia yang harus disalahkan ketika kecewa
kepada diri sendiri ?
Dikutip dari sebuah novel
pembangun jiwa,
“Bangsa ini sebenarnya adalah
Sriwijaya yang perkasa menguasai Nusantara. Juga Sebenarnya Majapahit yang
digjaya dan adikuasa, lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak
mungkin disangkal, adalah umat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta umat
Islam di Negeri Tercinta ini”
“Marilah kita hayati diri kita sebagai
seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di
muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental
umat terbelakang”
Malas pangkal kemiskinan dan
kebodohan...
“Kalian adalah sebaik – baiknya umat
yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf,
mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah !” (QS : Al – Imran : 110)
Berusaha menjalankan tugas dan
amanah yang orang tua saya percayakan, untuk belajar, belajar, dan belajar.
Semoga Kemalasan ini senantiasa musnah dalam benak saya, jangan sampai seperti kumpulan
rayap yang terus menggerogoti kayu dari dalam.
Inilah sedikit keadaan yang dapat
mendeskripsikan perasaan saya saat ini. Tidak tau juga kapan tanduk dikepala
saya muncul kembali, atau tidak tau juga kapan lingkaran emas kuning di atas
kepala saya hilang (symbol tanduk dan lingkaran emas dikepala biasanya
menggambarkan malaikat dan iblis, biasa dipakai di film – film kartun dan media
visual yang berhubungan dengan tokoh baik dan jahat).

heeh lur, malas memang lawan yang utama dan nyata ada. terlalu banyak pembenaran yang kita miliki untuk terus mengembangbiakan mals dalam diri.