Alangkah malunya jadi orang Indonesia !

   
   Bulan Ramadhan adalah Bulan yang penuh berkah tentunya, tetapi di lain sisi, dan sudut pandang lain, bulan ini adalah bulan yang penuh dengan cobaan dan ketahanan kita dalam melawan segala hawa nafsu yang ada.

   Waktu yang terus berlalu di tiap harinya, tiap jam nya begitu diresapi bagi umat muslim yang menjalankannya. Begitu juga yang saya jalani pada hari ke-4 bulan Suci Ramadhan ini. Dari waktu Bada Dzuhur sampai waktu adzan shalat ashar berkumandang, pada jam – jam ini lah dilanda kebosanan yang bisa dibilang akut. Mayoritas penghuni wisma ini lebih memilih tidur sebagai aktivitas rutin. Kebosanan ditambah lagi dengan tidak adanya kegiatan perkuliahan karena seyogyanya setelah  selesainya praktek lapangan 2 dan pengumpulan Laporan, tidak ada lagi kegiatan formal selain acara LINUS (Liga Nusantara) yang telai usai dan variasi kegiatan Ibadah di Bulan Ramadhan.

   Apalagi bagi teman – teman saya yang menghayati cobaan menahan lapar dan dahaga bersabar menunggu waktu berbuka, biasa bisa makan dan sejenak memakan cemilan sesuka perut di kantin, sekarang mereka harus lebih beradaptasi. Katakan “see you later” pada beng-beng, coca-cola, cheetos rasa keju sampai adzan magrib berkumandang nanti... 

   Aura kamar saya begitu sepi, samping kiri dan samping kanan bed tempat saya bersantai hanya terdapat orang yang berbaring di bednya tidak bergerak. Terlelap dalam tidur panjangnya sebagai seorang non job sejati. Adapun satu atau dua kali teman dari luar kamar yang membuka pintu ini, 3 detik kemudian mereka menutup pintu itu kembali. Menurut saya itu naluri yang wajar karena mereka lebih memilih melihat, menonton dan mungkin ikut memainkan PC games PES ( Pro Evolution Soccer ) 2012  di kamar sebelah, sebagai pengisi kegiatan mereka dalam menunggu waktu berbuka puasa nanti, daripada ikut bergabung membaca e-novel di laptop saya dengan suasana redup ini, terbukti dengan adanya macam – macam suara cekikikan dan omongan tidak terlalu jelas dari kamar sebelah, “AH”, “UH” dan “GOL” dan seterusnya.

    Di masa – masa inilah rentan sekali terkena virus malas, menyegel seluruh letupan – letupan semangat dalam menjalankan aktivitas yang produktif di waktu selapang – lapangnya ini. Langsung menyepekati secara otomatis “Kan tidur juga kalo di Bulan Ramadhan Ibadah”. Inilah kisah awal senandung si para pemalas. Sehingga Cita – cita hanyalah cerita. Mungkin yang membedakan antara Negara maju dan Negara berkembang adalah dari tingkat kemalasan dan tingkat kerja kerasnya para warga negaranya. Saya tidak bermaksud untuk sok pintar, atau merasa lebih paham, lebih mengerti, bahkan merasa lebih ahli, tapi saya hanya mencoba menelaah, mencoba berargumen, menjelaskan dari sisi ke awaman yang saya miliki , dan belajar merangkai kumpulan kalimat yang benar mengenai suatu informasi.

Seperti kalimat yang di kutip di novel yang saya sedang baca, 

“Hari adalah Kumpulan Waktu. Dan Waktu adalah Modal Berharga bagi para umat manusia”

   Dalam keadaan bodoh saya menganggap bahwa waktu yang saya miliki hari ini bisa didapatkan lagi di hari esok. Bahwa hari Selasa ini, terganti dengan hari selasa minggu depan. Filosofi prinsip santai dalam hidup. Seperti air mengalir, yang disalah artikan, lebih disebut prinsip pasrah dalam lautan kemalasan. Apakah mungkin kebiasaan ini bisa di bilang sebuah warisan turun – temurun ala bangsa ini ?
   
     Warisan ketidaksadaran akan potensinya. Paus raksasa penguasa samudera yang bermental ikan teri. Lebih memilih tetap menjadi ikan teri padahal paus raksasa. Lebih memilih hidup berkeluh kesah, terbiasa hidup pasrah. Dimana – dimana baik mayoritas remajanya lebih memilih hidup bergaya hedonis, yang penting gaul dulu, Ilmu pengetahuan baik berbentuk mata kuliah  apalagi Ilmu Agama itu di nomor dua kan bahkan di nomor tiga puluh kan. Ada yang dipercaya, dan mendapatkan amanah menjadi pemimpin, bahkan sampai dua periode, masih bisa “nyengir” dikala divonis menjadi “Si Tikus pemangsa uang”, ada yang sudah kuliah gratis tapi kadang – kadang malas seperti saya (Intropeksi Diri ), ada mantan atlit yang menjual mendalinya demi sesuap nasi. Prestasi disini seakan tidak terlalu dihargai, atau memang tidak dihargai. Ditambah rasa malas untuk berubah dan pihak – pihak yang malas menghargai. Sehingga kemalasan dari satu orang berimbas ke kemalasan yang lainnya . Saling terhubung menjadi siklus yang rumit dan jadilah keadaan negeri ini apabila dilihat dari satelit. Sungguh merugikan. Tapi saya yakin tidak semua. Tidak semua seperti itu. 


“Alangkah malunya jadi orang Indonesia !”

   Mungkin bisa saja kalimat itu tersirat dalam lubuk hati yang terdalam ketika merasa kecewa. Kenapa Indonesia yang harus disalahkan ketika kecewa kepada diri sendiri ? 

Dikutip dari sebuah novel pembangun jiwa,

“Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai Nusantara. Juga Sebenarnya Majapahit yang digjaya dan adikuasa, lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah umat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta umat Islam di Negeri Tercinta ini”

“Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental umat terbelakang” 

Malas pangkal kemiskinan dan kebodohan...

“Kalian adalah sebaik – baiknya umat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah !” (QS : Al – Imran : 110)

   Berusaha menjalankan tugas dan amanah yang orang tua saya percayakan, untuk belajar, belajar, dan belajar. Semoga Kemalasan ini senantiasa musnah dalam benak saya, jangan sampai seperti kumpulan rayap yang terus menggerogoti kayu dari dalam.

    Inilah sedikit keadaan yang dapat mendeskripsikan perasaan saya saat ini. Tidak tau juga kapan tanduk dikepala saya muncul kembali, atau tidak tau juga kapan lingkaran emas kuning di atas kepala saya hilang (symbol tanduk dan lingkaran emas dikepala biasanya menggambarkan malaikat dan iblis, biasa dipakai di film – film kartun dan media visual yang berhubungan dengan tokoh baik dan jahat).
  1. adima Says:

    heeh lur, malas memang lawan yang utama dan nyata ada. terlalu banyak pembenaran yang kita miliki untuk terus mengembangbiakan mals dalam diri.

Leave a Reply

"Man Jadda Wa Jadda"
-Arabian Quotes



"Knowledge Is Power"

-Francis Bacon


"Korupsi dipicu gaya hidup hedonis dan boros"


(Benar kan?).
-Eko Laksono

Sumber Inspirasi Saya ^_^ :

Arsip Blog