Hedonisme VS Kesederhanaan




Tanpa kita sadari, banyak kebiasaan hidup yang mendorong kita untuk selalu memprioritaskan hal – hal yang tidak terlalu penting untuk diurusi. Menciptakan efek blur ketika memutuskan secara bijak hal apa yang lebih penting untuk kita lakukan.Sebagai contoh, menonton Infotainment atau mengurusi rambut di Salon ternama menjadi hal dilematis bagi para ibu rumah tangga dibandingkan memasak untuk makan malam keluarga dan mengurusi keperluan rumah tangga di rumah. Padahal, jelas itu adalah kewajiban. Gejala ini membuktikan akan kesenangan pribadi lebih di kedepankan, bahkan lebih parahnya lagi, apabila kesenangan itu mengeluarkan biaya relatif mahal dan mengantarkan kebiasaan pada hidup boros. Pemborosan dan pencarian kesenangan membabi buta, mutlak di sebut hedonisme. Paham yang menjadi bumbu  biasanya dalam aktivitas kehidupan perkotaan. 


    Hedonisme berasal dari bahasa Yunani (Hedone) yang berarti kesenangan. Anggapan awal Hedonisme adalah manusia selalu mengejar kesenangan hidupnya, kesenangan ini biasanya cenderung kepada hal – hal yang bersifat materiil. Berusaha mencari kepuasaan pribadi dengan nafsu lahiriah tanpa adanya pengendalian diri ( Self Control ) karena terfokus tujuan hidupnya untuk mencari kesenangan duniawi sebanyak -  banyaknya. 

     Paham ini serba individual dan tidak menyentuh tataran diferensiasi sosial dalam pembahasannya. Hedonisme akan mendorong manusia untuk memenuhi kesenangan yang bersifat individual, dia akan lebih memprioritaskan kesenangan dirinya dibandingkan kesenangan orang lain. Hal ini kontradiksi atau tidak sejalan dengan salah satu poin prinsip pamong praja, “ambeg Paramarta”, lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan individu.

Paham semua manusia terlahir untuk mencari kesenangan individu dalam konsep Hedonisme itu sendiri tidak sepenuhnya benar. Apakah motivasi manusia untuk hidup hanya mencari kesenangan belaka ? tentu saja tidak. Contohnya orang tua sebagai penopang hidup anggota keluarga. Orang tua bekerja untuk mencari uang, tapi setelah penghasilan didapat dari jerih payahnya, uangnya berguna untuk menghidupi keluarga bukan untuk bersenang – senang secara egois bagi pribadinya sendiri (seperti konsepsi dasar Hedonisme). Hedonisme memandang bahwa sesuatu yang baik adalah sesuatu yang kita senangi dan yang buruk adalah sesuatu yang tidak kita senangi.

Efek tak terduga ternyata terus berlangsung di kehidupan masyarakat dewasa ini, dengan tindakan pencegahan yang lemah. Masyarakat, terutama golongan pemuda dan Mahasiswa lambat laun menerima hedonisme tanpa disadari, bisa dilihat dari salah satu trend di kalangan mereka. Di era globalisasi dan kemajuan Iptek yang pesat, selain teknologi 3G, lahir juga trend 3B ( Behel, Blackberry, dan berambut Belah tengah). Tanpa ketiga unsur itu, pola hidup mereka mungkin terasa ada yang kurang.Contoh kecilnya, memang baik apabila pemakaian behel bertujuan untuk memperbaiki jajaran gigi agar rapih tetapi apabila alasan trend yang di pakai, tidak ada tujuan mengarah pada aspek kesehatan, sangat disayangkan trend itu menjadi pemborosan dan berujung pada pola hidup para hedonis. Pandangan berlebih terhadap aspek fisik ini lah yang membuat kaum hedon rela menghabiskan banyak uang demi penampilan fisik sempurna.

Keadaan yang sangat memprihatinkan, ketika Mahasiswa atau kaum terpelajar seperti para praja, yang katanya ‘agent of change’, diharapkan menjadi sosok pemimpin pemegang amanah masyarakatnya, memberikan apapun yang terbaik bagi bangsa. Malah menjadi hedonis sebagai kalangan Intelektual kampus. Kesepakatan mutlak, hedonis macam itu, tidak pantas menjadi pemimpin di daerahnya kelak.

Hedonisme sangat berkaitan dengan pola hidup konsumtif. Konsumtif menimbulkan kebiasaan pemborosan, dan pemborosan itu dekat dengan korupsi ! 

Semakin pahit ketika menghubungkan hedonisme sebagai warisan dari kaum penjajah imperialis yang menjajah negeri ini tiga setengah abad lamanya, dengan kedaulatan bangsa ini. Jika Para elite pemerintah sebagai  manusia yang hanya peduli dan sibuk mengurus kepentingannya sendiri tidak akan berpikir ke arah apa sumbangsih yang diberikan untuk bangsanya. Jika ternyata bangsa ini semakin kacau dengan pengaruh negatif westernisasi yang mencengkeram kuat di negeri ini, maka mereka tidak akan ambil peduli. Mereka tidak akan risau asalkan semua kebutuhan pribadi mereka terpenuhi. Sesuai dengan teori siklus peradaban Ibnu Khaldun dalam karyanya, The Muqqadimah an Introduction to History (1989).Hedonisme menggiring suatu negara ke dalam palung kemusnahan dimulai dengan fase awal, tabiat kekuasaan nan serakah selalu menumpuk di satu tangan (the royal authority, by its very nature, must claim all glory for it self).

Keadaan aneh tetapi dianggap biasa saja, banyak warga Indonesia berada pada taraf kehidupan ekonomi kelas bawah, bahkan sampai tidak punya tempat tinggal, pengangguran sarjana membludak, tunjangan pegawai yang kecil, gedung sekolah runtuh tapi hal ini tidak membuat para elite pemerintah tersebut prihatin atau menangis tersedu – sedu, bahkan para anak muda lebih tertarik kepada program tv ajang mencari bakat, para kontestannya lebih sedih dan mengeluarkan air mata bila rekan satu perjuangannya tereleminasi. Terlihat jelas disadari maupun tidak bentuk dari sikap mengejar kesenangan duniawi mereka. Mungkin,dari satu bukti dari sekian banyak bukti, Hedonisme menjadi impian – impian generasi muda di tanah air bumi pertiwi ini.

 Jelas musuh dari Palestina adalah Israel dalam perebutan wilayahnya. Lebih jelas lagi untuk melawan  Hedonisme bisa menggunakan senjata kesederhanaan. Sedia payung sebelum hujan, maka perlunya antisipasi agar kehidupan kita tidak terpengaruh oleh pola hidup hedonisme. Diibaratkan hedonisme itu  bagaikan racun, dan penawarnya adalah pengendalian diri dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan duniawi.

Gerakan hidup sederhana adalah salah satu vaksin ampuh, sebuah tawaran nyata untuk menumpas langsung virus hedonisme di kalangan masyarakat, minimalnya untuk diri sendiri dengan penerapan nilai sederhana dalam kehidupan. Bung Hatta sebagai salah satu patriot pendiri bangsa menjadi contoh tepat nan akurat pembuktian akan gerakan hidup sederhana sebagai pemuda Indonesia angkatan perintis. Sejak dini kesederhanaan dan kebiasaan menabung sudah beliau terapkan. Hingga pada akhir hayatnya, beliau mengatakan dalam surat wasiatnya : “Saya tidak ingin dikubur di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya”. Apabila gerakan sederhana bisa diterapkan dalam perilaku Individu kenapa harus pesimis untuk diwujudkan dalam gerakan besar, kenapa harus negative thinking untuk dilaksanakan secara gerilya ?

Langkah alternatif lainnya, untuk menumpas pola hidup kaum hedon adalah berusaha untuk menjadi pemuda yang aktif, positif, dan produktif tentunya diwarnai dengan kesederhanaan juga. Karena salah satu faktor adanya kegiatan pemborosan dan berfoya – foya adalah karena terlalu banyak memiliki waktu luang. Jika seseorang memiliki banyak kegiatan produktif dan positif maka ia tidak akan memiliki waktu luang yang sia – sia. Energi yang tidak disalurkan pada kegiatan produktif maka dengan sendirinya akan mengalir kearah aktivitas non produktif. Melakukan kegiatan bakti sosial atau sekedar buka puasa bersama di panti asuhan merupakan segelintir aktivitas produktif yang bisa kita lakukan. Ide – ide brilian akan mengakar dengan sendirinya seiring dengan produktivitas positif yang dijalani. Mungkin juga kegiatan yang berbau hedonis dapat menjadi produktif seperti kisah di dalam film Thailand ‘TOP – Secret The Billionaire’. Seorang pemuda yang notabene sebagai gamers sejati bisa berusaha menjadi sosok manusia produktif dan menjadi jutawan dalam usia 26 tahun.

Kembali pada intinya, semua keputusan datang dari diri masing – masing. Karena tiap pribadi adalah sosok peran utama di kisah kehidupan jalan hidupnya. Menjadi tokoh antagonis ataupun protagonis adalah pilihan. Pola hidup hedonisme dan kesederhanaan juga adalah pilihan. Kumpulan buah pemikiran ini  hanyalah amanah sebagai sesama Insan untuk saling mengingatkan, menginformasikan bahwa gaya hidup hedonisme bukan pilihan yang tepat untuk dijadikan pedoman hidup, apalagi menjadi kompas penentu masa depan kelak. Layaknya minum air garam, semakin banyak diminum, semakin menambah dahaga, karena dengan hedonisme kita tidak akan pernah menemukan kepuasaan dan kebahagiaan. Tidak akan pernah merasa cukup. Perlunya kita sadari kodrat sebagai manusia yang mempunyai batas maksimal dengan kembali menyuburkan tunas – tunas spiritual. Tetap memelihara jiwa peduli terhadap sesama dan muntahkan karakter egois (selfish) sampai muntahan terakhir.

Tinggal berupaya maksimal, totalitas untuk  menjadi pribadi yang terbaik. Selalu berusaha mencapai cita - cita dan bersabar dalam menghadapi aneka ragam cobaan hidup. Seirama dengan pepatah arab, man jadda wa jadda Siapa yang bersungguh – sungguh pasti mendapat, Man Shabara Zhafira siapa yang bersabar akan beruntung. Be yourself guys !
  1. Anonim Says:

    setuju lur, mari kita biasakan hidup sederhana dengan selalu bersykur dengan apa yang kita miliki. :) tapi tetap tidak menghilangkan usaha dan doa yang maksimal untuk mendapatkan sesuatu hal yang kita ingini. ;)

  1. Anonim Says:

    Gw suka tulisan lo !

  1. Anonim Says:

    bagus mase, setuju

Leave a Reply

"Man Jadda Wa Jadda"
-Arabian Quotes



"Knowledge Is Power"

-Francis Bacon


"Korupsi dipicu gaya hidup hedonis dan boros"


(Benar kan?).
-Eko Laksono

Sumber Inspirasi Saya ^_^ :

Arsip Blog