05 Nov 2008 -
Tanpa kita
sadari, banyak kebiasaan hidup yang mendorong kita untuk selalu memprioritaskan
hal – hal yang tidak terlalu penting untuk diurusi. Menciptakan efek blur ketika memutuskan secara bijak hal apa
yang lebih penting untuk kita lakukan.Sebagai contoh, menonton Infotainment
atau mengurusi rambut di Salon ternama menjadi hal dilematis bagi para ibu
rumah tangga dibandingkan memasak untuk makan malam keluarga dan mengurusi
keperluan rumah tangga di rumah. Padahal, jelas itu adalah kewajiban. Gejala
ini membuktikan akan kesenangan pribadi lebih di kedepankan, bahkan lebih
parahnya lagi, apabila kesenangan itu mengeluarkan biaya relatif mahal dan
mengantarkan kebiasaan pada hidup boros. Pemborosan dan pencarian kesenangan
membabi buta, mutlak di sebut hedonisme.
Paham yang menjadi bumbu biasanya dalam
aktivitas kehidupan perkotaan.
Hedonisme
berasal dari bahasa Yunani (Hedone) yang
berarti kesenangan. Anggapan awal Hedonisme adalah manusia selalu mengejar
kesenangan hidupnya, kesenangan ini biasanya cenderung kepada hal – hal yang
bersifat materiil. Berusaha mencari kepuasaan pribadi dengan nafsu lahiriah
tanpa adanya pengendalian diri ( Self Control ) karena terfokus tujuan hidupnya
untuk mencari kesenangan duniawi sebanyak -
banyaknya.
Paham ini serba individual dan tidak
menyentuh tataran diferensiasi sosial dalam pembahasannya. Hedonisme akan
mendorong manusia untuk memenuhi kesenangan yang bersifat individual, dia akan
lebih memprioritaskan kesenangan dirinya dibandingkan kesenangan orang lain.
Hal ini kontradiksi atau tidak sejalan dengan salah satu poin prinsip pamong
praja, “ambeg Paramarta”, lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan
kepentingan individu.
Paham semua
manusia terlahir untuk mencari kesenangan individu dalam konsep Hedonisme itu
sendiri tidak sepenuhnya benar. Apakah motivasi manusia untuk hidup hanya
mencari kesenangan belaka ? tentu saja tidak. Contohnya orang tua sebagai
penopang hidup anggota keluarga. Orang tua bekerja untuk mencari uang, tapi
setelah penghasilan didapat dari jerih payahnya, uangnya berguna untuk
menghidupi keluarga bukan untuk bersenang – senang secara egois bagi pribadinya
sendiri (seperti konsepsi dasar Hedonisme). Hedonisme memandang bahwa sesuatu
yang baik adalah sesuatu yang kita senangi dan yang buruk adalah sesuatu yang
tidak kita senangi.
Efek tak terduga
ternyata terus berlangsung di kehidupan masyarakat dewasa ini, dengan tindakan
pencegahan yang lemah. Masyarakat, terutama golongan pemuda dan Mahasiswa lambat
laun menerima hedonisme tanpa disadari, bisa dilihat dari salah satu trend di kalangan mereka. Di era
globalisasi dan kemajuan Iptek yang pesat, selain teknologi 3G, lahir juga
trend 3B ( Behel, Blackberry, dan berambut Belah tengah). Tanpa ketiga unsur itu,
pola hidup mereka mungkin terasa ada yang kurang.Contoh kecilnya, memang baik
apabila pemakaian behel bertujuan untuk memperbaiki jajaran gigi agar rapih
tetapi apabila alasan trend yang di
pakai, tidak ada tujuan mengarah pada aspek kesehatan, sangat disayangkan trend itu menjadi pemborosan dan
berujung pada pola hidup para hedonis. Pandangan berlebih terhadap aspek fisik
ini lah yang membuat kaum hedon rela menghabiskan banyak uang demi penampilan
fisik sempurna.
Keadaan yang
sangat memprihatinkan, ketika Mahasiswa atau kaum terpelajar seperti para praja,
yang katanya ‘agent of change’, diharapkan menjadi sosok pemimpin pemegang
amanah masyarakatnya, memberikan apapun yang terbaik bagi bangsa. Malah menjadi
hedonis sebagai kalangan Intelektual kampus. Kesepakatan mutlak, hedonis macam
itu, tidak pantas menjadi pemimpin di daerahnya kelak.
Hedonisme sangat
berkaitan dengan pola hidup konsumtif. Konsumtif menimbulkan kebiasaan
pemborosan, dan pemborosan itu dekat dengan korupsi !
Semakin pahit
ketika menghubungkan hedonisme sebagai warisan dari kaum penjajah imperialis yang menjajah negeri ini tiga
setengah abad lamanya, dengan kedaulatan bangsa ini. Jika Para elite pemerintah
sebagai manusia yang hanya peduli dan
sibuk mengurus kepentingannya sendiri tidak akan berpikir ke arah apa
sumbangsih yang diberikan untuk bangsanya. Jika ternyata bangsa ini semakin
kacau dengan pengaruh negatif westernisasi
yang mencengkeram kuat di negeri
ini, maka mereka tidak akan ambil peduli. Mereka tidak akan risau asalkan semua
kebutuhan pribadi mereka terpenuhi. Sesuai dengan teori siklus peradaban Ibnu
Khaldun dalam karyanya, The Muqqadimah an
Introduction to History (1989).Hedonisme menggiring suatu negara ke dalam
palung kemusnahan dimulai dengan fase awal, tabiat kekuasaan nan serakah selalu
menumpuk di satu tangan (the royal authority, by its very nature,
must claim all glory for it self).
Keadaan aneh
tetapi dianggap biasa saja, banyak warga Indonesia berada pada taraf kehidupan
ekonomi kelas bawah, bahkan sampai tidak punya tempat tinggal, pengangguran
sarjana membludak, tunjangan pegawai yang kecil, gedung sekolah runtuh tapi hal
ini tidak membuat para elite pemerintah tersebut prihatin atau menangis tersedu
– sedu, bahkan para anak muda lebih tertarik kepada program tv ajang mencari
bakat, para kontestannya lebih sedih dan mengeluarkan air mata bila rekan satu
perjuangannya tereleminasi. Terlihat jelas disadari maupun tidak bentuk dari
sikap mengejar kesenangan duniawi mereka. Mungkin,dari satu bukti dari sekian
banyak bukti, Hedonisme menjadi impian – impian generasi muda di tanah air bumi
pertiwi ini.
Jelas musuh dari Palestina adalah Israel dalam
perebutan wilayahnya. Lebih jelas lagi untuk melawan Hedonisme bisa menggunakan senjata
kesederhanaan. Sedia payung sebelum hujan, maka perlunya antisipasi agar
kehidupan kita tidak terpengaruh oleh pola hidup hedonisme. Diibaratkan
hedonisme itu bagaikan racun, dan
penawarnya adalah pengendalian diri dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan
duniawi.
Gerakan hidup
sederhana adalah salah satu vaksin
ampuh, sebuah tawaran nyata untuk menumpas langsung virus hedonisme di kalangan masyarakat, minimalnya untuk diri
sendiri dengan penerapan nilai sederhana dalam kehidupan. Bung Hatta sebagai
salah satu patriot pendiri bangsa menjadi contoh tepat nan akurat pembuktian
akan gerakan hidup sederhana sebagai pemuda Indonesia angkatan perintis. Sejak
dini kesederhanaan dan kebiasaan menabung sudah beliau terapkan. Hingga pada akhir
hayatnya, beliau mengatakan dalam surat wasiatnya : “Saya tidak ingin dikubur
di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa
yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya”. Apabila gerakan sederhana
bisa diterapkan dalam perilaku Individu kenapa harus pesimis untuk diwujudkan
dalam gerakan besar, kenapa harus negative
thinking untuk dilaksanakan secara gerilya ?
Langkah
alternatif lainnya, untuk menumpas pola hidup kaum hedon adalah berusaha untuk
menjadi pemuda yang aktif, positif, dan produktif tentunya diwarnai dengan
kesederhanaan juga. Karena salah satu faktor adanya kegiatan pemborosan dan
berfoya – foya adalah karena terlalu banyak memiliki waktu luang. Jika
seseorang memiliki banyak kegiatan produktif dan positif maka ia tidak akan
memiliki waktu luang yang sia – sia. Energi yang tidak disalurkan pada kegiatan
produktif maka dengan sendirinya akan mengalir kearah aktivitas non produktif.
Melakukan kegiatan bakti sosial atau sekedar buka puasa bersama di panti asuhan
merupakan segelintir aktivitas produktif yang bisa kita lakukan. Ide – ide
brilian akan mengakar dengan sendirinya seiring dengan produktivitas positif
yang dijalani. Mungkin juga kegiatan yang berbau hedonis dapat menjadi
produktif seperti kisah di dalam film Thailand ‘TOP – Secret The Billionaire’. Seorang pemuda yang notabene sebagai
gamers sejati bisa berusaha menjadi sosok manusia produktif dan menjadi jutawan
dalam usia 26 tahun.
Kembali pada
intinya, semua keputusan datang dari diri masing – masing. Karena tiap pribadi
adalah sosok peran utama di kisah kehidupan jalan hidupnya. Menjadi tokoh
antagonis ataupun protagonis adalah pilihan. Pola hidup hedonisme dan
kesederhanaan juga adalah pilihan. Kumpulan buah pemikiran ini hanyalah amanah sebagai sesama Insan untuk
saling mengingatkan, menginformasikan bahwa gaya hidup hedonisme bukan pilihan
yang tepat untuk dijadikan pedoman hidup, apalagi menjadi kompas penentu masa
depan kelak. Layaknya minum air garam, semakin banyak diminum, semakin menambah
dahaga, karena dengan hedonisme kita tidak akan pernah menemukan kepuasaan dan
kebahagiaan. Tidak akan pernah merasa cukup. Perlunya kita sadari kodrat
sebagai manusia yang mempunyai batas maksimal dengan kembali menyuburkan tunas
– tunas spiritual. Tetap memelihara jiwa peduli terhadap sesama dan muntahkan
karakter egois (selfish) sampai muntahan terakhir.
Tinggal berupaya
maksimal, totalitas untuk menjadi
pribadi yang terbaik. Selalu berusaha mencapai cita - cita dan bersabar dalam
menghadapi aneka ragam cobaan hidup. Seirama dengan pepatah arab, man jadda wa jadda Siapa yang bersungguh
– sungguh pasti mendapat, Man Shabara
Zhafira siapa yang bersabar akan beruntung. Be yourself guys !

setuju lur, mari kita biasakan hidup sederhana dengan selalu bersykur dengan apa yang kita miliki. :) tapi tetap tidak menghilangkan usaha dan doa yang maksimal untuk mendapatkan sesuatu hal yang kita ingini. ;)