Al - Mutawakkil Abad 21




Ruang lobi wisma bertipe lesehan dengan TV terpasang didepannya, di penuhi  oleh kerumunan orang yang haus akan informasi dan berita paling brand-new sambil sekedar sedikit berlama – lama sebelum waktu upacara makan pagi di mulai tepat 06.45 pagi.

Berita sepak bola mendapat perhatian lebih. Informasi mengenai bursa transfer pemain ataupun ulasan pertandingan menimbulkan obrolan tersendiri hingga waktu iklan tiba, dan channel TV di ganti ke berita pagi. Saya hanya bisa menelan ludah sebelum menelan menu makan pagi nanti ketika melihat berita tentang salah satu bupati di kabupaten penghasil produksi segala macam dodol tersebut ‘katanya’ menceraikan istrinya lewat sms, yang sebelumnya menuai komitmen hubungan resmi dengan jalur ‘nikah sirih’. Bukan hal yang ‘wah’ berita ini nantinya berakibat pada amukan massa yang kecewa terhadap perilaku pemimpinnya.


Sebenarnya menurut saya semua informasi mengenai ‘nikah sirih’ dan aneka ragam judul miris lainnya berkenaan tentang pemegang kekuasaan, tokoh politik adalah masalah klasik yang terjadi di negeri 1001 suku dan budaya ini.
 

Kade nu ngarana harta, tahta, jeung awewe mah tiasa janten racun keur lalaki” lupa – lupa ingat tapi saya berusaha untuk ingat petuah dari ayah saya bahwa ketika seorang lelaki berlebihan kepada tiga unsur kehidupan duniawi, yaitu harta, tahta, dan wanita bisa menghanyutkan kehidupannya, lupa akan akhirat dan bersibuk ria dengan kehidupan dunia. Saya juga jadi ingat sejarah mengenai akhir kehancuran peradaban Islam pada abad ke 12, pada masa kekhalifahan Abbassiyah ,di bawah kekuasaan Khalifah Al – Mutawakkil yang hobi mengkoleksi wanita dengan kekuasaannya yang melimpah di Baghdad pada saat itu, Sekaligus sebagai pelopor adanya retakan – retakan pada tembok masa jaya peradaban Islam. Dimulai dari harta diakhiri oleh wanita. Dan pada masa ending moment nya di libas habis oleh bangsa mongol, membuat Kota Baghdad sebagai bentuk nyata salah satu wilayah dari puncaknya peradaban Islam pada masa silam itu rata akan tanah, saluran perairan sekaligus sungainya pekat akan darah. Apakah mungkin berita sebelum makan pagi ini juga menandakan bahwa akan ada penerus Al – Muttawakil di abad 21 ? Semoga saja tidak ya...

menjadi seorang pemimpin mempunyai banyak resiko. Resiko dan seorang pemangku jabatan penting di negeri ini diibaratkan sebuah bayangan dengan objeknya, tidak akan lepas, apalagi objeknya disorot oleh sinar matahari. Sinar tersebut mungkin bisa diartikan sorotan publik melalui media massa. Mata publik selalu mengawasi segala gerak – gerik pemimpinnya. Jadi mau tidak mau seorang pemimpin senantiasa harus mempunyai pencitraan positif, minimalnya senyum sana senyum sini, sapa tangan dengan lembut, walaupun mungkin di balik semua itu banyak tersimpan  konspirasi – konspirasi mencengangkan (kembali lagi ke ‘mungkin’). 

Resiko pemimpin, sekali mukanya tercoreng oleh  hal negatif, maka akan menimbulkan krisis kepercayaaan publik yang membludak. Maka jangan mengkerutkan kening keheranan apabila rakyat bosan menunggu lama apa yang harus dilakukan ketika masalah kunjung bertambah, Kenali lah karakteristik publik Indonesia, dan jangan buat yang aneh – aneh.

Saya bersyukur masih ada alat ampuh untuk meneropong dan mengawasi para punggawa negeri ini agar tidak berbuat seenaknya, tidak lain dan tidak bukan adalah media massa. Dengannya, semua keadaan carut marut negeri ini menjadi sangat transparan, tentunya media massa yang netral, tidak berdiam diri di garis putih maupun hitam, tetapi tetap setia di garis tengah.

Hidup di masa broadcast aib terangan – terangan membuat saya tersenyum terbalik, dan berita  tentang prestasi para pemimpin ataupun trend center yang masih mempunyai pencitraan yang baik seperti perilaku salah seorang sosok Gubernur Ibu Kota yang bertindak ‘langsung turun ke lapangan untuk memecahkan masalah rakyat’ yang sedang ngetrend di berbagai media massa, ataupun melakukan hal – hal yang bijak menjadi setitik embun yang menyejukan, sepintas menyegarkan tumpukan dosa orang – orang penting yang sudah terekspos ke media. Saya dan kamu mungkin bisa mengkritik, menghujat, beropini terhadap segala perbuatan yang mereka perbuat, kita berada di sebrang, mereka berada di singgasana. Jangan sampai kita ataupun saya sendiri nantinya, ketika di amanahkan untuk duduk di singgasana kekuasaan, merubah mahkota kekuasaan yang di taruh di ubun – ubun menjadi mahkota berbentuk sepasang tanduk, merubah prinsip ideal sesuai yang kita utarakan ketika masih menjadi orator di depan gerbang istana mewah kekuasaan sana. Harapan yang baik tidak salah diutarakan bukan ? Amin Ya Rabbal’alamin...

Mau sebagaimana pun lihainya kita berpenampilan, baik memakai baju rapih lengkap dengan wewangian parfum piere elise yang elegan, tidak akan merubah bau tidak sedap apabila sebagai tokoh publik, kita melakukan suatu perilaku yang dianggap kurang pantas, kurang ideal, kurang sopan  untuk kisahnya di konsumsi oleh publik. Inilah salah satu dari segelintir resiko menjadi famous person, ataupun menjadi pemimpin di kancah jabatan politik.

Meskipun secara kodrat manusia adalah tempatnya salah, seperti misalnya kebijakan yang dikeluarkan bisa saja kurang ‘pas’ ataupun keliru, namun pastinya secara nurani terasa kuras etis. Dalam konteks agama mungkin bisa saja saya atau siapapun yang mengemban jabatan sebagai sosok pemimpin daerah dipandang dalam kategori orang yang lemah imannya, bahkan mata publik mengartikan perbuatan itu sebagai hobi menyenangi kemaksiyatan.

Setidaknya, foto kandidat bupati maupun walikota seperti di baliho di pinggir maupun perempatan jalan, benar – benar mencerminkan kebijaksanaan, peci memancarkan kerelegiusan, dasi dan jas mempunyai makna  super professional dalam menjalankan tugas, senyum yang terpatri bermakna santun dan mempunyai sense of belonging terhadap masalah rakyat, dapat menjadi tokoh teladan, saleh, pandai serta bertanggung jawab apalagi ditambah paras nan ganteng, menambah nilai tambah karisma. Mungkin Saya dan anda akan sangat bersyukur apabila demikian implementasinya, tetapi faktanya cenderung sebaliknya, dekat ke ilusi daripada kenyataan.

Mengambil cara untuk mencari jalan keluar dengan “meminta maaf”, kepada publik mungkin bukan cara yang cerdik jikalau ada niatan ditambah naluri  untuk mempertahankan kursi jabatan yaitu kekuasaan itu sendiri sudah “mode : on”. Tapi menurut saya itu adalah cara yang pas menurut keawaman saya. Apalagi misalnya dengan jalan menyangkal, menghadapi asongan berbagai kamera dan mic yang hampir menyentuh wajah dengan jawaban misalnya “ Ada apa ya ? Kok rame gini, ada konser dangdutan ya ?” dengan memasang wajah Innocent face, wajah tidak berdosa malah akan memperparah keadaan. Salah satu wujudnya yaitu aktivitas massa yang naik pitam, misalnya timbulnya vandalisme  dalam melakukan demonstrasi seperti mengotak – atik foto atau gambar yang bersangkutan menjadi lebih berwarna dan berubah bentuk akan terus terjadi seiring berjalannya masalah menuju solusi yang tepat.

Berbicara tentang Demokrasi yang dikorelasikan dengan berita miris itu...mungkin nantinya kembali ke rakyat, kembali ke suara publik yang akan menjawab pertanyaan “Masih pantaskah ?”  Ya atau tidak tergantung dari amal perbuatan dan kehendak-Nya yaaa... Wallahu A’lam
  1. noorz Says:

    kesalahan tidak akan pernah mampu untuk ditolerir ketika yang melakukan itu adalah seorang penguasa. great job lur! :)

  1. Sendu Says:

    yaa.. sulitnya jadi penguasa zaman sekarang, malah banyak dosa, mungkin berakhir dengan nista... hehe..

  1. . Says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  1. Anonim Says:

    THANK YOU FOR INFORMATION, Speak Your Mind

    krim pembesar pantat
    pelangsing badan herbal
    spray tahan lama
    obat pembesar penis
    obat penambah sperma
    obat pembesar payudara
    jual cialis
    perangsang wanita
    kianpi pil asli

    link bagi anda yang ingin cari alat bantu

    kondom getar
    vagina getar
    vagina senter
    vagina getar goyang
    celana pembesar
    alat pemanjang penis
    penis bendera
    penis isi air
    kapsul penggetar
    penis getar
    penis jumbo manual


Leave a Reply

"Man Jadda Wa Jadda"
-Arabian Quotes



"Knowledge Is Power"

-Francis Bacon


"Korupsi dipicu gaya hidup hedonis dan boros"


(Benar kan?).
-Eko Laksono

Sumber Inspirasi Saya ^_^ :

Arsip Blog