05 Nov 2008 -
Ruang lobi wisma bertipe lesehan dengan TV terpasang didepannya, di penuhi oleh kerumunan orang yang haus akan informasi dan berita paling brand-new sambil sekedar sedikit berlama – lama sebelum waktu upacara makan pagi di mulai tepat 06.45 pagi.
Berita sepak bola mendapat perhatian lebih. Informasi
mengenai bursa transfer pemain ataupun ulasan pertandingan menimbulkan obrolan
tersendiri hingga waktu iklan tiba, dan channel TV di ganti ke berita pagi.
Saya hanya bisa menelan ludah sebelum menelan menu makan pagi nanti ketika
melihat berita tentang salah satu bupati di kabupaten penghasil produksi segala
macam dodol tersebut ‘katanya’ menceraikan istrinya lewat sms, yang sebelumnya
menuai komitmen hubungan resmi dengan jalur ‘nikah sirih’. Bukan hal yang ‘wah’
berita ini nantinya berakibat pada amukan massa yang kecewa terhadap perilaku
pemimpinnya.
Sebenarnya menurut saya semua informasi mengenai ‘nikah sirih’ dan aneka ragam judul miris lainnya berkenaan tentang pemegang kekuasaan, tokoh politik adalah masalah klasik yang terjadi di negeri 1001 suku dan budaya ini.
“Kade nu ngarana harta, tahta, jeung awewe mah tiasa janten
racun keur lalaki” lupa – lupa ingat tapi saya berusaha untuk ingat petuah dari
ayah saya bahwa ketika seorang lelaki berlebihan kepada tiga unsur kehidupan
duniawi, yaitu harta, tahta, dan wanita bisa menghanyutkan kehidupannya, lupa
akan akhirat dan bersibuk ria dengan kehidupan dunia. Saya juga jadi ingat
sejarah mengenai akhir kehancuran peradaban Islam pada abad ke 12, pada masa
kekhalifahan Abbassiyah ,di bawah kekuasaan Khalifah Al – Mutawakkil yang hobi
mengkoleksi wanita dengan kekuasaannya yang melimpah di Baghdad pada saat itu,
Sekaligus sebagai pelopor adanya retakan – retakan pada tembok masa jaya peradaban
Islam. Dimulai dari harta diakhiri oleh wanita. Dan pada masa ending moment nya
di libas habis oleh bangsa mongol, membuat Kota Baghdad sebagai bentuk nyata
salah satu wilayah dari puncaknya peradaban Islam pada masa silam itu rata akan
tanah, saluran perairan sekaligus sungainya pekat akan darah. Apakah mungkin
berita sebelum makan pagi ini juga menandakan bahwa akan ada penerus Al –
Muttawakil di abad 21 ? Semoga saja tidak ya...
menjadi seorang pemimpin mempunyai banyak resiko. Resiko dan
seorang pemangku jabatan penting di negeri ini diibaratkan sebuah bayangan
dengan objeknya, tidak akan lepas, apalagi objeknya disorot oleh sinar
matahari. Sinar tersebut mungkin bisa diartikan sorotan publik melalui media
massa. Mata publik selalu mengawasi segala gerak – gerik pemimpinnya. Jadi mau
tidak mau seorang pemimpin senantiasa harus mempunyai pencitraan positif,
minimalnya senyum sana senyum sini, sapa tangan dengan lembut, walaupun mungkin
di balik semua itu banyak tersimpan
konspirasi – konspirasi mencengangkan (kembali lagi ke ‘mungkin’).
Resiko pemimpin, sekali mukanya tercoreng oleh hal negatif, maka akan menimbulkan krisis
kepercayaaan publik yang membludak. Maka jangan mengkerutkan kening keheranan
apabila rakyat bosan menunggu lama apa yang harus dilakukan ketika masalah
kunjung bertambah, Kenali lah karakteristik publik Indonesia, dan jangan buat
yang aneh – aneh.
Saya bersyukur masih ada alat ampuh untuk meneropong dan
mengawasi para punggawa negeri ini agar tidak berbuat seenaknya, tidak lain dan
tidak bukan adalah media massa. Dengannya, semua keadaan carut marut negeri ini
menjadi sangat transparan, tentunya media massa yang netral, tidak berdiam diri
di garis putih maupun hitam, tetapi tetap setia di garis tengah.
Hidup di masa broadcast aib terangan – terangan membuat saya
tersenyum terbalik, dan berita tentang
prestasi para pemimpin ataupun trend center yang masih mempunyai pencitraan
yang baik seperti perilaku salah seorang sosok Gubernur Ibu Kota yang bertindak
‘langsung turun ke lapangan untuk memecahkan masalah rakyat’ yang sedang
ngetrend di berbagai media massa, ataupun melakukan hal – hal yang bijak
menjadi setitik embun yang menyejukan, sepintas menyegarkan tumpukan dosa orang
– orang penting yang sudah terekspos ke media. Saya dan kamu mungkin bisa
mengkritik, menghujat, beropini terhadap segala perbuatan yang mereka perbuat,
kita berada di sebrang, mereka berada di singgasana. Jangan sampai kita ataupun
saya sendiri nantinya, ketika di amanahkan untuk duduk di singgasana kekuasaan,
merubah mahkota kekuasaan yang di taruh di ubun – ubun menjadi mahkota
berbentuk sepasang tanduk, merubah prinsip ideal sesuai yang kita utarakan
ketika masih menjadi orator di depan gerbang istana mewah kekuasaan sana.
Harapan yang baik tidak salah diutarakan bukan ? Amin Ya Rabbal’alamin...
Mau sebagaimana pun lihainya kita berpenampilan, baik
memakai baju rapih lengkap dengan wewangian parfum piere elise yang elegan,
tidak akan merubah bau tidak sedap apabila sebagai tokoh publik, kita melakukan
suatu perilaku yang dianggap kurang pantas, kurang ideal, kurang sopan untuk kisahnya di konsumsi oleh publik.
Inilah salah satu dari segelintir resiko menjadi famous person, ataupun menjadi
pemimpin di kancah jabatan politik.
Meskipun secara kodrat manusia adalah tempatnya salah,
seperti misalnya kebijakan yang dikeluarkan bisa saja kurang ‘pas’ ataupun
keliru, namun pastinya secara nurani terasa kuras etis. Dalam konteks agama
mungkin bisa saja saya atau siapapun yang mengemban jabatan sebagai sosok
pemimpin daerah dipandang dalam kategori orang yang lemah imannya, bahkan mata
publik mengartikan perbuatan itu sebagai hobi menyenangi kemaksiyatan.
Setidaknya, foto kandidat bupati maupun walikota seperti di
baliho di pinggir maupun perempatan jalan, benar – benar mencerminkan
kebijaksanaan, peci memancarkan kerelegiusan, dasi dan jas mempunyai makna super professional dalam menjalankan tugas,
senyum yang terpatri bermakna santun dan mempunyai sense of belonging terhadap
masalah rakyat, dapat menjadi tokoh teladan, saleh, pandai serta bertanggung
jawab apalagi ditambah paras nan ganteng, menambah nilai tambah karisma.
Mungkin Saya dan anda akan sangat bersyukur apabila demikian implementasinya,
tetapi faktanya cenderung sebaliknya, dekat ke ilusi daripada kenyataan.
Mengambil cara untuk mencari jalan keluar dengan “meminta
maaf”, kepada publik mungkin bukan cara yang cerdik jikalau ada niatan ditambah
naluri untuk mempertahankan kursi
jabatan yaitu kekuasaan itu sendiri sudah “mode : on”. Tapi menurut saya itu adalah
cara yang pas menurut keawaman saya. Apalagi misalnya dengan jalan menyangkal,
menghadapi asongan berbagai kamera dan mic yang hampir menyentuh wajah dengan
jawaban misalnya “ Ada apa ya ? Kok rame gini, ada konser dangdutan ya ?”
dengan memasang wajah Innocent face, wajah tidak berdosa malah akan memperparah
keadaan. Salah satu wujudnya yaitu aktivitas massa yang naik pitam, misalnya
timbulnya vandalisme dalam melakukan
demonstrasi seperti mengotak – atik foto atau gambar yang bersangkutan menjadi
lebih berwarna dan berubah bentuk akan terus terjadi seiring berjalannya
masalah menuju solusi yang tepat.
Berbicara tentang Demokrasi yang dikorelasikan
dengan berita miris itu...mungkin nantinya kembali ke rakyat, kembali ke suara
publik yang akan menjawab pertanyaan “Masih pantaskah ?” Ya atau tidak tergantung dari amal perbuatan
dan kehendak-Nya yaaa... Wallahu A’lam

kesalahan tidak akan pernah mampu untuk ditolerir ketika yang melakukan itu adalah seorang penguasa. great job lur! :)